Kamis, 28 April 2016

Karangan Ilmiah dan non ilmiah

Karangan deskripsi


Pengertian

Karangan deskripsi adalah suatu tulisan atau karangan yang menggambarkan atau memaparkan suatu objek, lokasi, keadaan atau benda dengan kata-kata. Biasanya apa yang kita gambarkan dalam karangan kita merupakan hasil pengamatan panca indra kita.

Jenis Karangan Deskripsi

Secara garis besar ada 2 macam bentuk karangan deskripsi:

1. Deskripsi Ekspositori

Merupakannkarangan yang sangat logis, biasanya merupakan daftar rincian atau hal yang penting-penting saja yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis objek yang diamati.

2. Deskripsi Impresionatis

Merupakan karangan yang menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk menetralisir pembacanya. Deskripsi impresionistis ini lebih menekankan impresi atau kesan penulisnya ketika melakukan observasi atau ketika melakukan impresi tersebut.

Ciri-Ciri Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:

  • menggambarkan atau melukiskan sesuatu,
  • penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,
  • membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.

Contoh deskripsi berupa fakta:

  • Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenisflora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.

Contoh deskripsi berupa fiksi:

  • Salju tipis melapis rumput, putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.

Karangan Eksposisi

Pengertian Karangan Eksposisi dan Contoh Karangan Eksposisi Tentang Kesehatan - Karangan eksposisi adalah sebuah tulisan yang terdiri dari paragraf-paragraf eksposisi yang bertujuan untuk memaparkan, memberi keterangan, atau memberikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada para pembacanya dengan gaya penulisan yang akurat dan padat.

 Karakteristik karangan Eksposisi:


1. Menjelaskan suatu informasi sejelas-jelasnya agar pembaca mengetahuinya
2. Membahas suatu topik yang benar-benar terjadi (data faktual)
3. Bersifat netral dan tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak pembacanya
4. Menyajiakan  analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
5. Menyatakan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu


Langkah-langkah menulis karangan eksposisi:


1. Menentukan tema
2. Memilih data-data pendukung yang sesuai dengan tema
3. Membuat kerangka karangan
4. Mengembangkan kerangka menjadi suatu karanagn yang utuh

Dalam membuat karangan eksposisi, penulis harus mengetahui perincian tentang suatu topik yang ingin dibahas, kemudian membagi perincian tersebut berdasarkan urutan kronologisnya. Urutan kronologis dalam membuat karangan eksposisi adalah penjelasan tentang proses terjadinya atau permasalahan yang mucul pada topik, urutan fungsional, analisis sebab-akaibat, dan analisis perbandingan.





Karangan Persuasi

Suatu paragraf yang isinya berupa ajakan atau membujuk pemabacanya agar melakukan atau mengikuti apa yang penulis ungkapkan di dalam paragraf disebut dengan paragraf persuasi. Paragraf ini dibuat dengan berdasarkan pemahaman atau asumsi bahwa setiap pandangan atau pendirian umat manusia bisa berubah-ubah.

Tujuan paragraf ini adalah untuk membujuk atau mempengaruhi pembacanya agar mempercayai dan melakukan apa yang penulis sampaikan di dalam paragraf. Untuk mencapai tujuan ini, paragraf persuasi harus disertai dengan bukti dan data-data pendukung yang kuat. Di dalam paragraf persuasi banyak ditemukan kata-kata yang bersifat mengajak seperti “ayo”, “mari”, dan “lakukanlah”. Paragraf ini banyak ditemukan di dalam iklan, himbaun atau propaganda di media masa.

 


Ciri-ciri paragraf persuasi



Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa paragraf persuasi memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut ini:

1. Dikarenakan tujuan utamanya untuk mempengaruhi pembaca, paragraf persuasi memiliki alasan-alasan yang kuat disertai dengan data dan fakta.
2. Paragraf ini berusaha meyakinkan pembacanya untuk melakukan atau mempercayai yang ditulis oleh penulis.
2. Paragraf persuasi banyak menggunakan kata-kata ajakan seperti ayo, mari, lakukanlah, dan lain-lain.
3. Paragraf persuasi  biasanya menghindari konflik agar kepercayaan pembacanya tidak hilang dan supaya kesepakatan pendapat antara penulis dan pembaca tercapai.

Paragraf persuasi banyak dipakai oleh media, produsen-produsen produk tertentu atau keperluan politik karena paragraf persuasi merupakan cara yang paling efektif untuk mempengaruhi pembacanya.

 


Contoh paragraf persuasi:



Menggunakan pupuk berbahan dasar kimia memang bisa mempercepat pertumbuhan tanaman dan dapat meningkatkan hasil panen. Namun, pupuk kimia memiliki dampak negatif bagi lingkungan sekitarnya karena pupuk ini bisa mencemari lingkungan. Bahkan, pupuk ini juga bisa membuat buah-buahan yang dihasilkan terkontaminasi oleh zat-zat kimia yang berbahaya buat tubuh manusia. Oleh karena itu, tinggalkanlah pupuk kimia dan beralihlah ke pupuk kompos karena selain harganya yang murah, pupuk kompos juga aman dan tidak menimbulkan efek negatif bagi buah yang dihasilkan. 

 


Karangan Argumentasi

Berdasarkan tujuannya suatu tulisan dapat dibagi menjadi karangan argumentasi, deskrispsi, narasi, eksposisi, dan persuasi. Pada kesempatan marilah kita bahas tentang karangan argumentasi lebih jauh.

Karangan argumentasi adalah salah satu bentuk tulisan yang isinya berupa pendapat-pendapat penulis mengenai suatu hal dengan mengemukakan pendapat berupa alasan, contoh dan bukti yang kuat. Karangan ini bertujuan untuk menyakinkan atau mempengaruhi pembaca untuk dapat memiliki pandangan yang sama dengan penulis. 


Ciri-Ciri Karangan Argumentasi


Paragraf argumentasi memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Paragraf ini berusaha menyakinkan pembaca agar percaya dengan pendapat penulis
2. Paragraf ini disertai dengan pembuktian berupa data, fakta, grafik, table, dan lain-lain.
3. Paragraf ini meghindari keterlibatan emosi dan subjektivitas dalam mengemukakan pendapanya.
4. Paragraf ini menggunakan logika dan penalaran sebagai landasan berfikirnya.

Di dalam karangan argumentasi, ada 3 bagian utama yang harus ada, yaitu:

1. Pendahuluan

Bagian pendahuluan merupakan bagian awal di mana penulis akan memperkenalkan topik yang kan dibahasnya.

2. Tubuh argument

Pada bagian ini berisi argument atau pandangan-pandangan penulis mengenai topik yang seadang dibahas.

3. Kesimpulan

Bagian kesimpulan merupakan inti atau ringkasan seluruh pendapat pengarang akan suatu topik yang sedang di bahas.


Contoh

Bullying

Budaya bullying sangatlah berbahaya bagi tumbuh dan berkembang anak-anak. Bullying dapat merusak masa depan dan menajadikan mereka pasif dan apatis terhadap dirinya dan juga lingkungnnya. Sebetulnya bullying telah terjadi sejak zaman dahulu dan tidak ada yang tahu kapan budaya bullying dimulai.

Bahaya yang dapat disebabkan oleh bullying ini sangat begitu besar bagi anak-anak. Anak-anak korban bullying yang terus mendapatkan tekanan dan ejekan dari teman-temannya akan menderita tekanan batin yang sangat berat. Mereka akan menjadi takut bersosialisai dan berinteraksi dengan orang lain. Akibatnya mereka mulai menjauhkan diri dari lingkungannya. Sehingga terjadilah anak-anak yang kurang percaya diri atau bahkan lebih parah lagi anak-nak yang menjadi stress.

Oleh karena itu, jauhi dan awasilah perilaku bullying di dalam lingkungan anak-anak agar masa depan mereka tidak hancur dan menjadi anak-anak yang aktif dan berprestasi.


Karangan Narasi

Suatu karangan yang menyajikan sebuah cerita berupa serangkaian peristiwa yang disusun dengan urutan waktu atau kronologis adalah karangan narasi. Karangan ini sendiri bertujuan untuk menghibur para pembacanya melalui cerita atau kisah-kisah baik berupa cerita fiksi maupun non-fiksi yang disampaikan oleh penulis. Karangan narasi banyak ditemukan pada novel, roman, cerpen, biografi, dan otobiografi.


Ciri-Ciri Karangan Narasi


Sebuah karangan dapat dikatakan sebagai karangan narasi jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Isi karangan narasi berupa sebuah cerita, atau peristiwa tertentu.
2. Cerita atau peristiwa yang disampaikan memiliki urutan waktu yang jelas dari tahap awal hingga akhir.
3. Menampilkan suatu peristiwa atau konflik di dalam cerita.
4. Memiliki unsur-unsur berupa latar, setting, tema, karakter, dan lain-lain.




Contoh Karangan Narasi Pendek


Narasi Informatif/Ekspositoris


Perang Surabaya

Pada tanggal 10 November meletuslah sebuah perlawanan rakyat di Surabaya untuk mengusir Belanda dan para sekutunya dari tanah air. Perang ini berawal dari kemarahan tentara inggris akibat dari terbunuhnya pimpinan mereka, Brigadir Jenderal Mallaby. Akibat tewasnya pimpinan mereka pihak Inggris dan sekutunya memberikan sebuah ultimatum kepada seluruh pejuang yang da di Surabaya waktu itu untuk menyerah.

Bukannya menyerah, ultimatum tersebut malah dianggap sebuah penghinaan oleh para pejuang dan rakyat. Mereka membentuk sebuah milisi-milisi perjuangan untuk menghadapi piahk Inggris yang mengancam untuk menyerang.

Mengetahui utimatumnya ditolak, pihak Inggris dan sekutunya marah besar, kemudian pada 10 November pagi mereka melancarkan serangan besar-besaran melalui laut, darat dan udara dengan mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank dan kapal perang. Kota Surabaya diserang habis-habisan oleh pihak sekutu. Mereka mengebom gedung-gedung pemerintahan dan membunuh para pejuang. Kejadian waktu itu sangatlah mengerikan, pembunuhan terjadi di mana-mana dan membuat para pejuang terdesak.

Namun, diluar dugaan rencana mereka untuk menaklukan kota Surabaya dalam 3 hari gagal. Seluruh pejuang dan rakyat Surabaya turun ke jalan untuk melakukan perlawanan. Semangat juang para pahlawan waktu itu muncul berkat seorang pemuda yang bernama Bung Tomo, dia dengan gagah berani memekikan pidato untuk membakar seluruh semangat para pejuang.

Pertempuran Surabaya berlangsung sekitar 3 minggu dan dimenangkan oleh pihak sekutu. Meskipun kota Surabaya jatuh ketangan sekutu, perlawanan rakyat Surabya waktu itu membangkitkan semangat juang seluruh rakyat Indonesia.  








Contoh artikel ilmiah / non ilmiah di media

Sumber: https://parapenuliskreatif.wordpress.com/category/artikel-ilmiah-populer/

Anak Merokok, Siapa Yang Salah ?



Masih segar di ingatan, bocah bernama Sandi yang sempat menjadi perbincangan banyak orang akibat kebiasaan yang tidak lazim di usianya yaitu merokok. Dalam video yang banyak beredar di dunia maya, memperlihatkan jika cara merokok Sandi sudah seperti orang dewasa. Ketika melihat video tersebut, muncul beberapa pertanyaan, bagaimana Sandi bisa mendapatkan rokok ?, apakah orang tuanya membiarkannya ?

Sudah biasa kita melihat sekelompok anak muda baik itu anak sekolah ataupun yang tidak berseragam sekolah, beberapa di antara mereka pasti merokok. Yang lebih parah, anak-anak SD dan SMP sudah banyak yang menghisap tembakau ini.

Faktor yang menyebabkan hal ini mungkin hanya hal yang sepele. Mungkin saja berawal dari orang tua yang sering menyuruh anaknya untuk membelikannya rokok, kemudian anak itu bertanya-tanya mengapa orang tuanya itu suka sekali mengonsumsi rokok. Padahal seorang anak biasanya senang meniru tingkah laku orangtua nya.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K) dikutip darihttp://www.depkes.go.id/, lebih dari sepertiga pelajar dilaporkan biasa merokok, dan ada 3 di antara 10 pelajar menyatakan pertama kali merokok pada umur di bawah 10 tahun (The Global Youth Tobacco Survey, 2006).

The Global Youth Tobacco Survey (2006) di Indonesia 64.2% anak-anak sekolah yang disurvei melaporkan terpapar asap rokok selama mereka di rumah atau menjadi second hand smoke (SHS). Lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal dengan perokok di rumah. Global Youth Tobacco Survey (2006) melaporkan 89% anak-anak usia 13-15 tahun terpapar SHS di tempat-tempat umum. Anak-anak yang terpapar SHS mengalami penurunan pertumbuhan paru, mudah terinfeksi saluran pernafasan dan telinga, dan asma.

Melihat data di atas, terlihat jika keluarga mempunyai peran penting mengenai kebiasaan seorang anak yang merokok. Dari kebiasaan di rumah tentunya akan menjadi kebiasaan di luar rumah. Belum lagi pengawasan orang tua yang tidak bisa penuh selama 24 jam menambah kemungkinan anak di bawah umur untuk merokok. Faktor lingkungan juga mempengaruhi hal ini. Lingkungan sekolah dan bermain anak-anak juga harus diperhatikan. Tidak jarang seorang guru merokok di depan siswa-siswanya ketika jam istirahat ataupun pulang sekolah. Hal ini juga menjadi pemicu rasa keingintahuan anak untuk merokok.

Melihat hal itu, mungkin peraturan batas minimal usia perokok harus lebih diperhatikan. Pembatasan berupa larangan mengonsumsi dan membeli rokok oleh anak di bawah usia 18 tahun sudah sering kita lihat di iklan media massa. Namun yang terjadi di lapangan bertolak belakang dengan iklan tersebut. Para pedagang rokok seolah-olah tidak mempedulikan peraturan tersebut. Anak-anak dibuat mudah mendapatkan rokok. Mudahnya anak-anak memperoleh rokok, tentunya akan memberi pengaruh terhadap lingkungan kepada anak yang tidak merokok.

Dalam hal ini pemerintah memang memegang peran besar. Jika pemerintah lebih tegas dalam peraturan bukan tidak mungkin angka perokok di Indonesia akan jauh menurun. Namun untuk mencapai hal itu pemerintah akan menemui batu yang besar, antara lain, para produsen rokok akan melakukan protes besar, karena mengingat keuntungan mereka akan berkurang secara drastis, dengan berkurangnya keuntungan mereka maka nasib buruh rokok menjadi tanda tanya, bagaimana nasib para petani tembakau.

Kebanyakan perokok sebenarnya menyadari bahaya rokok tapi mungkin karena terlambat menyadari sehingga mereka sudah terlanjur tercandu oleh itu, dan tidak ada niat yang kuat berhenti. Terlambat sadarnya karena mungkin awal ia mulai mengonsumsi rokok itu waktu kecil dan ia belum tahu apa-apa tentang bahaya rokok, dan ketika ia tahu sudah terlambat dan dalam benaknya sudah tertanam sulit untuknya lepas dari rokok.

Tapi keinginan berbagai pihak untuk mengurangi jumlah perokok tidak akan terwujud tanpa kerjasama dari berbagai pihak. Entah itu itu dari orang tua, para distributor rokok dalam arti para penjual rokok, dan pemerintah. Karena apa bila tidak ada kerja sama dari pihak-pihak itu mustahil akan tercapai semua itu.

Sumber:
http://fahrunnisdwianjari.blogspot.co.id/2016/04/karangan-ilmiah-dan-non-ilmiah.html
http://www.kelasindonesia.com

Jumat, 08 April 2016

Tugas Bahasa Indonesia 2 : Penalaran Induktif & Deduktif

PENALARAN INDUKTIF

Paragraf Induktif adalah paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahan-permasalahan khusus (mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri dengan kesimpulan yang berupa pernyataan umum. Paragraf Induktis sendiri dikembangkan menjadi beberapa jenis. Pengembangan tersebut yakni paragraf generalisasi, paragraf analogi, paragraf sebab akibat bisa juga akibat sebab.

Contoh paragraf Induktif:
Pada saat ini remaja lebih menyukai kebudayaan dari jepang seperti cosplay, harajuku style, maid cafe dan lain sebagainya. Begitupula dengan jenis musik umumnya mereka menyukai j-rock, j-metal, maupun reff tarian dan kesenian tradisional mulai ditinggalkan dan beralih mengikuti tren jepang. Penerimaan terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai dengan pelestarian budaya sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-lahan menggeser kesenian dan budaya tradisional. (sumber)

Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.

Contoh generalisasi :
Pemakaian bahasa Indonesia diseluruh daerah di Indonesia dewasa ini belum dapat dikata seragam. Perbedaan dalam struktur kalimat, lagu kalimat, ucapan terlihan dengan mudah. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah. Diungkapkan persurat kabaran, radio, dan TV pemakaian bahasa indonesia belum lagi dapat dikatakan sudah terjaga baik. Para pemuka kita pun pada umumnya juga belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia yang terjaga baik. Fakta – fakta diatas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan.

Macam-macam generalisasi
1.      Generalisasi sempurna yaitu, generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki semua. Contohnya : Semua bulan masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31 hari.
2.      Generalisasi tidak sempurna yaitu, generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki. Contohnya : Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia adalah menusia yang suka bergotong-royong.

Contoh analogi :
Kita banyak tertarik dengan planet Mars, karena banyak persamaannya dengan Bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. Mars mempunyai atmosfir seperti Bumi. Temperaturnya hampir sama dengan Bumi. Unsur air dan oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya musim seperti Bumi. Jika Bumi ada mahluk. Tidaklah mungkin ada mahluk hidup diplanet Mars.

Contoh hubungan sebab akibat :
Masalah pengangguran merupakan masalah serius yang harus diselesaikan pemerintah, seperti beberapa waktu lalu diberitakan dimedia cetak dan ibu kota, bagaimana ribuan pencari kerja hars berdesakan bahkankan pingsan untuk mendapatkan pekerjaan. Menurut laporan media cetak hal ini terjadi karena dalam waktu dekat ini banyak perusahaan menufaktor yang akan tutup. Sehingga harus melakukan PHK. Selain itu minimnya kahlian atau rendahnya kualitas SDM menjadi faktor penyebab banyaknya pengangguran diibukota.

PENALARAN DEDUKTIF

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh:
·                     Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial. (sumber)
·                     Kebersihan sangat menjadi masalah di sekolah. Ini terjadi karena banyak murid-murid yang tidak sadar akan kebersihan. Padahal “kebersihan adalah sebagian dari iman”. (sumber)

Macam-macam penalaran deduktif, diantaranya :

a.      Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.
Contoh :
PU  : Setiap orang asing harus memiliki izin kerja, jika ingin bekerja di Indonesia.
PK  : Peter White itu orang asing.
S    : Jadi, Peter White harus memiliki izin kerja jika ingin bekerja di Indonesia.
keterangan
PU  =premis umum
PK  = premis khusus
S    = silogisme
  
b.      Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh :
Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Pada malam hari tidak ada matahari
Pada malam hari tidak mungkin ada fotosintesis.

CONTOH BERITA  DEDUKTIF
JAKARTA – Museum tidak boleh lagi identikdenganruangantuayangkusam dan berisi barang-barang antik semata. Mereka yang mendatanginya tidak boleh hanya pencinta sejarah.
Sebaliknya museum harus dibuat semenarik mungkin sehingga bisa menyedot perhatian sebanyak mungkin orang. Hal itu penting bukan hanya untuk menguatkan posisi museum sebagai pusat edukasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata. Langkah tersebut hanya bisa terwujud jika pengelola museum melakukan berbagai inovasi, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.
Rupanya kesadaran untuk melakukan inovasi mulai dilakukan pengelola sejumlah museum di Tanah Air seperti Museum Bank Indonesia (BI), Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Museum Transportasi TMII, Museum Benteng Vredeburg Daerah Istimewa Yogyakarta, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran di Sragen. Museum BI, misalnya, melakukan inovasi konsep pelayanan yang mampu membuat pengunjung semakin banyak.
”Museum BI memiliki konsep smart museum dengan mempergunakan berbagai teknologi sebagai peraganya. Hal ini dilakukan Museum BI tanpa melupakan perannya sebagai wahana edukasi kepada masyarakat,” ujar Kepala Museum BI, Yiyok T Herlambang, di Jakarta. Inovasi Museum BI terasa begitu pengunjung memasuki ruangan museum. Pengunjung yang hadir akan disuguhi informasi mengenai tugas dan fungsi BI. Masyarakat pun jadi bisa mengetahui secara persis perihal BI. Apalagi masih ada anggapan dari masyarakat bahwa BI tidak berbeda dengan Bank Mandiri, Bank BNI, dan sejenisnya.
Dengan konsep seperti itu, tidak mengherankan kalau pada saat ini sejumlah pihak telah menyatakan minatnya mengadopsi konsep yang dikembangkan Museum BI. Beberapa perwakilan bank sentral dari negara lain menyatakan kekagumannya atas konsep museum tersebut. ”Beberapa hari lalu ada rombongan dari Bank Sentral Nepal. Mereka sangat mengapresiasi museum ini,” ujar dia.
Bahkan sejumlah biro travel telah menjadikan Museum BI sebagai salah satu destinasinya. Itulah sebabnya, jumlah kunjungan di Museum BI cukup tinggi. Pada tahun lalu, jumlah pengunjung mencapai 220.000 orang. Jumlahnya diperkirakan meningkat pada tahun ini mengingat hingga Maret, jumlah pengunjung telah mencapai 60.000 orang. Selain inovasi pelayanan, Museum BI juga terus melakukan pembenahan, salah satunya dengan memperbanyak koleksi. Dalam waktu dekat, Museum BI akan membuka bagian bank syariah.
”Termasuk rencana membuka miniatur museum di sejumlah daerah. Terdekat di Yogyakarta. Saat ini sedang dalam proses penyusunan dan layout ,” tutur dia. Adapun Kepala Museum KAA Thomas Siregar melakukan inovasi dengan menggabungkan layanan pemandu untuk merangsang pengunjung agar menggali lebih dalam tentang sejarah KAA, membangun suasana atau atmosfer yang nyaman kepada pengunjung, dan memberikan pengalaman sehingga saat pulang dari museum pengunjung mendapat pengetahuan yang membekas.
Sejauh ini upaya tersebut cukup sukses menarik minat pengunjung. Bahkan dari catatan terakhir di 2016, jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat sebanyak 3.000 orang lebih pada Februari. Sebelumnya, jumlah pengunjung pada Januari 2016 sebanyak 27.431 orang dan sebanyak 30.406 pada Februari 2016. ”Wisatawan mancanegara yang berkunjung juga mengalami peningkatan pada periode yang sama, dari 460 orang menjadi 725 orang,” ujar Thomas.
Museum Transportasi TMII juga mulai melakukan inovasi. Menurut Kepala Museum Transportasi Danang Setyo Wibowo, pembenahan di antaranya dilakukan pada aspek marketing dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, yakni melalui platform media digital. ”Informasi melalui Facebook, Twitter dan media sosial lainnya akan ditingkatkan untuk menjaring pengunjung.
Rata-rata pengunjung harian sekitar 1.000 orang. Kalau hari kerja biasa dikunjungi pelajar atau mahasiswa. Kalau di hari libur masyarakat umumnya sebagian besar bukan berasal dari Jabodetabek,” terang dia. Danang mengaku pihaknya telah menargetkan agar di masa mendatangsemakinbanyakwisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung.
Untuk itu dia menjalin kerja sama dengan sejumlah komunitas pencinta transportasi dari dalam maupun luar negeri. Salahsatuprogramyangsegera direalisasi adalah labelisasi dua bahasa pada setiap koleksi. ”Kami menargetkan dalam beberapa tahun ke depan sudah bisa go international, ” terang dia. Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga akan melakukan hal yang sama.
Menurut Educator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Ari Suryanto, pihaknya juga mulai melakukan sosialisasi penggunaan media sosial untuk mendatangkan pengunjung. Pada saat ini, pengunjung di Museum Perumusan Naskah Proklamasi baru 1.000 orang per bulannya. Sosialisasi dan edukasi ke sekolah juga terus ditingkatkan. Bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di pulau lain. Langkah itu dinilainya strategis karena bukan hanya menyosialisasi pentingnya berkunjung ke museum, tetapi juga memberikan edukasi mengenai peristiwa bersejarah yang menjadi bagian penting pada kemerdekaan Indonesia.
Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran di Sragen, Jawa Tengah, Sukronedi, menuturkan pihaknya menyediakan tiga display yang disusun sebaik mungkin baik dengan dukungan sistem teknologi informasi. Setiap display yang ada selalu dilengkapi dengan narasi singkat mengenai apa yang ditampilkan. Hal itu agar masyarakat tahu dan bisa belajar lebih tentang apa yang ada di museum tersebut.
”Setiaptahunkitaselalu melakukan perubahan baik di sisi tampilan atau di sisi koleksi yang dipertontonkan, hal itu agar masyarakat tidak jenuh,” ujarnya. Dengan inovasi dan pengembangan yang terus dilakukan, saat ini museum tersebut selalu mengalami peningkatan pengunjung. Pada tahun 2007 yang lalu jumlah kunjungan ke museum Sangiran masih di bawah 50.000 orang setahun. Namun berkat pengembangan yang dilakukan saat ini pengunjung museum sudah mencapai 400.000 orang setahun.
Adapun Museum Benteng Vredeburg, DIY, melakukanpembenahan dengan menggandeng sejumlah komunitas masyarakat seperti komunitas pecinta sejarah, komunitas musik, dan komunitas anak muda lainnya. Para komunitas itu diberi ruang dan waktu untuk berekspresi di Vredeburg. ”Kami sediakan jadwal dan panggung bagi para komunitas. Biasanya akhir pekan sebagai magnet wisatawan,” ujar Kepala Museum Benteng Vredeburg, Zainul Azzah.
Selain itu, pihak museum juga menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk menarik pengunjung dari kalangan pelajar. Museum berulang kali menggelar lomba bertema sejarahyangmelibatkanpelajardari tingkat TK hingga SMA seperti lomba melukis dan bercerita.
”Bulan April ini kami akan gelar lomba cerita sejarah bagi pelajar SMA/sederajat,” kata Azzah. Dengan langkah tersebut, angka pengunjung Museum Vredeburg tahun 2015 tercatat lebih dari 460 ribu orang. Angka itu naik dari tahun 2014 yang hanya 400 ribuan.
Hermansah/arief setiadi/robi ardianto/ Heru Muthahari neneng zubaidah/maman adi saputro/muhammad roqib
Ide pokok gagasan paragraf di atas terdapat pada awal (deduktif) paragraf, yakni “Museum tidak boleh lagi identikdenganruangantuayangkusam dan berisi barang-barang antik semata.”

Sumber :
- http://saras26.blogspot.co.id/2016/04/berpikir-induktif-dan-deduktif-tugas.html
- http://dhitaayunurjanah.blogspot.co.id/2016/04/penalaran-induktif-dan-deduktif.html

Minggu, 13 Maret 2016

Penalaran

Penalaran adalah proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi. Proposis-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proposisi inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Ciri-ciri penalaran :
-          Adanya suatu pola pikir yang secara luas disebut dengan logika.
-          Sifat analitik dari proses berfikir. Analisa pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berfikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
-          Menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan, keputusan, atau sikap yang baru.
-          Premis berupa pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah di peroleh.
Tujuan dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis apakah yang kita lakukan itu benar atau tidak sehingga dapat dilaksanakan.

Proposisi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya. Singkatnya, proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah. Dalam ilmu logika, proposisi mempunyai tiga unsur yakni :
1.      Subyek, perkara yang disebutkan adalah terdiri dari orang, benda, tempat, atau perkara.
2.      Predikat, adalah perkara yang dinyatakan dalam subyek.
3.      Kopula, adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat.
Banyak pemikir modern berpikir bahwa “pernyataan” dan “proposisi” adalah sinonim, atau paling tidak seharusnya sama.
Jenis-jenis proposisi :
Berdasarkan bentuknya, proposisi dapat dibagi 2, yaitu :
1.      Proposisi tunggal, adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat atau hanya mengandung satu pernyataan.
2.      Proposisi majemuk atau jamak, adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Berdasarkan sifatnya, proposisi dibagi kedalam 2 jenis, yaitu :
1.      Kategorial, adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan atau memerlukan syarat apapun.
2.      Kondisional, adalah proposisi yang membutuhkan syarat tertentu didalam hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi kondisional dapat dibagi lagi kedalam 2 jenis yaitu :
a.       Kondisional hipotesis.
b.      Disjungtif.
Berdasarkan kualitas proposisi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
1.      Positif, adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan predikat.
2.      Negative, adalah proposisi yang menyatakan bahwa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
Berdasarkan kuantitas, proposisi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
a.       Umum, predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh objek.
b.      Khusus, predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.

Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal dari kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Hukum valid inference dipelajari dalam bidang logika.
Inferensi manusia (yaitu bagaimana cara manusia menarik kesimpulan) secara tradisional dipelajari dalam bidang psikologi kognitif, kecerdasan buatan para peneliti mengembangkan sistem inferensi otomatis untuk meniru inferensi manusia. Inferensi statistic memungkinkan untuk kesimpulan dari data kuantitatif.
Implikasi bisa kita definisikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian. Akan tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di dalamnya. Di dalam konteks penelitian sendiri, implikasi bisa di lihat. Apabila dalam sebuah penelitian kita mempunyai kesimpulan misalnya "A", "Manusia itu bernafas". Maka "Manusia itu bernafas" yang kita sebut dengan implikasi penelitian. Untuk contohnya, dalam hasil penelitian kita menemukan bahwa siswa yang di ajar dengan metode "A" lebih kreatif serta memiliki skill yang lebih baik. Dengan demikian dengan menggunakan metode belajar "A" kita bisa mengharapkan siswa menjadi lebih kreatif dan juga memiliki skill yang baik. Setelah itu perlu juga untuk dihubungkan dengan konteks penelitian yang telah kita bangun. Contohnya, sampelnya kelas berapa? seperti apa karakteristik sekolah? ada berapa sampel? dan lain-lainnya. Nah, memang sudah seharusnya implikasi penelitian di lakukan secara spesifik layaknya karakteristik di atas.

Wujud Evidensi Adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi juga sering disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan. Kita mungkin mengartikannya sebagai "cara bagaimana kenyataan hadir" atau perwujudan dari ada bagi akal". Misal Mr.A mengatakan "Dengan pasti ada 301.614 ikan di bengawan solo", apa komentar kita ? Tentu saja kita tidak hanya mengangguk dan mengatakan "fakta yang menarik". Kita akan mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian. Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai "kepastian", Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut. Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, "Ada tiga jendela di dalam ruang ini," persetujuan atau ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah didapatkan. Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu. ·

Cara menguji data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut : 
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas ·

Cara menguji fakta Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil :
1. Konsistensi
2. Koherensi ·

Cara menilai autoritas Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan

Penalaran sangat penting dan sangat erat kaitannya dengan penulisan ilmiah. Karena untuk mengetahui hipotesis-hipotesis yang kita buat apakah benar atau tidak maka harus dilakukan pendekatan yaitu dengan penalaran. Sehingga setelah dilakukan penalaran, hipotesis-hipotesis yang dibuat akan tervalidasi sehingga akan mendukung materi yang diangkat. Jadi, penalaran sangat berpengaruh terhadap ketepatan dan juga kebenaran dari hal atau materi yang diangkat dalam penulisan ilmiah.






Daftar Pustaka :
- http://id.wikipedia.org
https://hadi27.wordpress.com/penalaran-dalam-penulisan-karya-ilmiah/

Senin, 09 November 2015

diksi

Iklan atau formalnya pariwara adalah promosi benda seperti barang, jasa, tempat usaha, dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor. Manajemen pemasaran melihat iklan sebagai bagian dari strategi promosi secara keseluruhan. Komponen lainnya dari promosi termasuk publisitas, hubungan masyarakat, penjualan, dan promosi penjualan.
Yang akan saya bahas pertama adalah iklan rokok. Banyak orang yang bertanya, “kenapa kok iklan rokok gak ada rokoknya? “. Ya karena itu merupakan peraturan pemerintah untuk setiap iklan rokok. Jika kita tonton, maka justru yang ditampilkan dalam iklan tersebut adalah hal-hallain yang jauh sekali dari rokok seperti petualangan, humor, bahkan sampai pesan-pesan yang aneh yang mungkin tidak semua orang dapat memahaminya. Lalu akan timbul pertanyaan lagi “Bagaimana iklan ini bisa efektif jika produk rokoknya tidak dibahas? “. Ya, mungkin saja didalam iklan-iklan rokok tersebut mengandung pesan-pesan tersendiri yang bagi para perokok, mereka bisa mencerna apa maksud dan tujuan dari iklan tersebut.
Contohnya apakah anda pernah mendengar kalimat “Fine cut for fine taste”? Umumnya, perokok akan tahu maksud dari kalimat ini. Yaitu, karena rokok terbuat dari tembakau dan cengkeh yang dipotong-potong, maka maksud dari fine cut disini adalah pemotongan bahan-bahan tersebut dengan baik sehingga akan menghadirkan rasa yang enak. Jadi kita tahu maksud dari iklan ini adalah menerangkan keunggulan produk mereka yaitu proses pemotongan bahan-bahan baku rokok dengan baik.
Selanjutnya adalah slogan dari iklan coklat yaitu kalimat “Gede sih, tapi rela bagi-bagi?”. Yang berarti bahwa produk tersebut jumlahnya besar, tapi apakah anda rela membagi-bagikannya?. Jadi maksud kalimat ini adalah menerangkan bahwa produk ini mempunyai isi yang lebih banyak atau besar. Dan dengan ada kalimat “Tapi rela bagi-bagi?” ini secara tidak langsung menerangkan bahwa produk ini sangat enak sehingga sang pemilik seakan tidak rela membagi sedikit saja kepada orang lain.
Dari iklan minuman sereal “Minum makanan bergizi”. Yang berarti jika anda meminum produk ini sama saja anda telah memakan makanan bergizi. Lalu kenapa bahasanya seperti itu, yang mengartikan anda meminum makanan yang bergizi?, ini karena minuman sereal ini cukup mengenyangkan sehingga jika kita minum, rasanya kita kenyang seperti habis makan.



Sumber:
http://wikipedia.org
http://www.kompasiana.com/ahmad.hemat.perkasa/iklan-rokok-kok-nggak-ada-rokoknya_5517a2b2a333117e07b65f9c